Senin, 13 Mei 2013
Hujan & Kita
Posted By:
Ayatul Husna
on 16.59
Seperti hujan yang membumikan bumi
Seperti hujan yang memelodikan melodi
Seperti hujan yang meromantiskan
Seperti hujan,
Yah,
Kita,
Kita seperti hujan...
Jumat, 25 Januari 2013
Senin, 07 Januari 2013
Cheer Up !!!
Posted By:
Ayatul Husna
on 17.06
Pagi yang malu-malu di sela ranting pepohonan
Mengibaratkan cerita baru yang akan terlewati
Ada banyak teka-teki
Dan semuanya menunggu untuk terpecahkan
Seperti tumpukan kertas yang menunggu untuk terbaca
Senyum, tawa dan tangis, tiada abadi
Nikmati hari kawan
Walau mentari pagi ini terlalu malu menampakkan diri,
Bukan berarti hari harus semendung ini
Bergerak dan bergeraklah !
Kalahkan mendung hari ini. buat harimu tersenyum !!!
Do your best !
Rasa Yang Kemarin
Posted By:
Ayatul Husna
on 16.26
Seperti kemarin, aku masih mencintai
Seperti kemarin, aku masih ingin kita Satu
Seperti kemarin, kekasihku
Aku ingin bersamamu
Bila saat ini dingin hati yang ada tetap ada
Aku tidak ingin melarut dalam laraku karena tiada bersamamu
Bila kita tiada mungkin kembali, pergi dan menjauhlah s’gala
inginku bersamamu
Namun rasa akan tetap jadi rasa yang sama.
Melepaskan, senjata terkuat yang kumiliki
Kala segala kekuatan dunia menjauhkanmu
Aku tiada bisa memaksa
Ketika jalan kita tak harus bersisian
Ketika lara harus di rasai sendiri
Biarkan nirwana rasa ini tetap ada untuk mengenangmu
Rasa,,,
Rasa adalah hal yang tiada akan termusnahkan waktu
Meski aku tiada
mungkin memelukmu saat aku meregang maut
Aku akan tetap mencintaimu
Seperti pagi yang selalu setia pada hari
Aku mencintaimu, seperti bintang yang selalu menghiasi malam
Aku mencintaimu, seperti aku yang mencintaimu
Membiarkan Tuhan memberi kita cerita yang berbeda di jalan
yang berbeda
Aku mencintaimu seperti rintihan sendiriku yang harus
melepasmu
Karena cinta adalah melepasmu…
(1 Januari 2013)
Rabu, 26 Desember 2012
simfoni hitam. lihatlah lebih dekat
Posted By:
Ayatul Husna
on 03.07
Malam
sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan
cita bersama
Namun
s'lalu aku bertanya
Adakah
aku di mimpimu
Di
hatiku terukir namamu
Cinta
rindu beradu satu
Namun
s'lalu aku bertanya
Adakah
aku di hatimu
T'lah
kunyanyikan alunan-alunan senduku
T'lah
kubisikkan cerita-cerita gelapku
T'lah
kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi
mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu
Bila
saja kau di sisiku
'Kan
ku beri kau segalanya
Namun
tak henti aku bertanya
Adakah
aku di rindumu
Tak
bisakah kau sedikit saja dengar aku
Dengar
simfoniku
Simfoni
hanya untukmu....
Pergilah
sedih
Pergilah
resah
Jauhkanlah
aku dari
Salah
prasangka
Pergilah
gundah
Jauhkan
resah
Lihat
segalanya lebih dekat
Dan
'kubisa menilai lebih bijaksana
Mengapa
bintang bersinar
Mengapa
air mengalir
Mengapa
dunia berputar
Lihat
segalanya lebih dekat
Dan
'kuakan mengerti
Minggu, 16 Desember 2012
aku sendiri kekasihku
Posted By:
Ayatul Husna
on 00.01
Aku sendiri kekasihku
Aku terus menunggu walau batas tak terbaca
Aku kehilangan jejak saat mencarimu dalam penatku
Mungkinkah akan sampai
Sedang engkau tak nampak jua.
Kebahagiaan yang semu
Mungkinkah menjadi nyata
Saat segala yang ada begitu tak terdefinisi
Aku lemah kekasihku
Aku tak berdaya
Penantianku mengguratkan banyak asa yang tak teraih
Aku kehabisan akal
Aku habis
Nyaliku semakin ciut dan engkau tak jua nampak
Aku, engkau, bisakah punya waktu?
Senin, 26 November 2012
Kenangan Bersamamu, Girl !
Posted By:
Ayatul Husna
on 20.38
KENANGAN BERSAMA :
1. Kiki Rasmala Sani, S. Sos
2. Rosmaniar, S. Sos
3. Hasniati, S. Sos
4. Darmawati, S. Sos (Almh)
5. Megawati, S. Sos
6. Hariati Muhamaad, S. Sos
7. Fitriani Safitri, S. Sos
Sabtu, 24 November 2012
Bro menggila Mendengar Jikustik Berpuisi dan Terre menjadi Butiran Debu
Posted By:
Ayatul Husna
on 16.03
menebarkan setiap kata-kata
walau waktu tak pernah bawamu
merenungi puisi bersamaku
Entah kapan lagi
kan tuliskan puisi untukmu
puisi tentang segenap hasratku
hasrat yang tak pernah kusadari
puisi yang menggedor sendi keperempuananku
Aku memujamu lewat bait
aku memanggilmu lewat rima
aku menggodamu lewat baris kata
Dan, aku mencintaimu lewat syairku
Biarku aku terus menggilaimu
karena tanpamu, aku gersang
aku rapuh, aku kehilangan makna hidup,
Aku tanpamu, bukanlah aku !
Selasa, 23 Oktober 2012
AKU, ENGKAU, KITA, KEHABISAN CERITA
Posted By:
Ayatul Husna
on 18.53
BAG II
Aku pernah begitu menutup diri atas semua manusia yang datang. Aku pernah
tertunduk lesu pada setiap lelaki yang hadir. Aku pernah mengenyahkan jauh-jauh
perasaan yang kadang menggelitik hati karena begitu takut untuk jatuh pada
kenangan lama. Aku pernah membuang jauh-jauh semua perasaan hati yang
kutakutkan bisa menguras habis keping hati. Kepingan karena luka yang lama. Aku
pernah kehilangan segalanya. Segala tentang hati terkubur begitu jauh.
Engkau yang kemudian datang. Menciptakan sebuah gemuruh dan angin topan
dahsyat yang bisa membuatku lupa. Lupa aku harus tetap tertidur dalam kubur
yang kubuat sendiri. Engkau yang datang seharusnya tidak mengusik dunia yang
kubangun dengan begitu senyap. Engkau yang datang tak seharusnya membuatku
merasa kembali hidup. Aku berusaha
menghalau, namun tetap tak bisa. Tak mampu. Aku ternyata berlari untuk
segera meninggalkan duniaku. Menujumu. Ke arah dimana engkau berdiri.
Kini, segala tentang aku, engkau, kita terkikis gelombang waktu. Semunya berakhir
tanpa mampu kukendalikan. Aku terhempas dengan begitu kerasa saat gelombang datang.
Aku, yang seharusnya tetap berada dalam dunia kita, terbuang kembali ke dunia
gelap. Sunyi dan senyap. Dan engkau, tetap pada duniamu. Jarak begitu jauh
mengantarai kita. Bahkan untuk sekedar mendengar desahmupun tak bisa kulakukan.
Kita tinggal cerita.
Untuk kesekian kali, aku harus belajar mengikhlaskan. Belajar melepaskan.
Belajar bahwa kita akan tetap menjadi sebuah kenangan yang indah meski tak lagi
serumpun.
Kita berakir disini.
Mendung sore. Awan gelap yang
menggelayut memudarkan pesona cerah. Tarik ulur cuaca menyiratkan pergulatan.
Mungkin hujan akan segera turun. Atau mungkin seperti kemarin. Awan gelap
menggantung di angkasa sejauh mata memandang, tapi rintik hujan tak jua kunjung
menetes. Sesekali angin bertiup. Ntah bersekongkol dengan apa. Apakah mengantar awan gelap untuk
semakin mengumpul atau mengahalaunya untuk segera berlalu. Seharusnya, Sunset bisa nampak saat ini di ufuk barat. Tapi,
semburat sore itu hilang ditutupi awan gelap mendung.
Air mata menetes. Aku harus memendam rasa. Rasa yang tak berujung. Air mata
menetes, tapi bukan karena perih. Aku meneteskannya karena aku tersadar, keindahan
rasa ini terlalu anggun hanya untuk sekedar dilupakan. Aku meneteskan air mata,
karena itu caraku melepas beban. Melepas asa yang mungkin tak teraih. Meneteskan
airmata menjadi sebuah syarat. Betapa semuanya begitu sayang untuk kubuang.
Aku, engkau, kita. Sebuah cerita
yang bisa menghapus begitu banyak mendung yang ada. Aku, engkau, kita.
Seharusnya bisa menghalau mereka lagi. Tapi, aku, angkau, kita. Telah habis
cerita. Telah habis makna. Telah habis bahasa. Telah habis kata. Telah
kehabisan inspirasi.
Tapi, aku, engkau, dan kita akan tetap ada dalam sejarah pergulatan
cuaca. Cuaca dimana awan menggelantung pada hati yang tak terdefinisi.
( Sinjai, 23 Oktober 2012 )
Minggu, 21 Oktober 2012
AKU, ENGKAU, KITA. KEHABISAN CERITA
Posted By:
Ayatul Husna
on 20.20
Ayatul Husna
BAG I
Mendung
sore. Awan gelap yang menggelayut memudarkan pesona cerah. Tarik ulur cuaca
menyiratkan pergulatan. Mungkin hujan akan segera turun. Atau mungkin seperti
kemarin. Awan gelap menggantung diangkasa sejauh mata memandang, tapi rintik
hujan tak jua kunjung menetes. Sesekali angin bertiup. Ntah bersekongkol dengan apa. Apakah mengantar awan gelap untuk
semakin mengumpul atau mengahalaunya untuk segera berlalu. Seharusnya, Sunset bisa nampak saat ini
di ufuk barat. Tapi, semburat sore itu hilang ditutupi awan gelap mendung.
Hhhhmmmm.
Kenapa tak hujan saja? Mungkin dengan hujan yang turun, tak ada lagi mendung
yang bergelayut menutupi angkasa. Kenapa tak hujan saja? Hujan yang bisa
menghalau kabut-kabut yang menggerogoti setiap sendi. Kenapa tak hujan saja? Dan
setidaknya aku mampu menutupi linang-linang air yang menetes.
Di sore
yang lalu. Mendung sore tak mengusik. Ada begitu banyak mendung namun tak bisa
membuatku menggugat cuaca. Mendung yang lebih hebat dari inipun tak mampu menghalau.
Aku,
engkau, kita. Sebuah cerita yang bisa menghapus begitu banyak mendung yang ada.
Aku, engkau, kita. Seharusnya bisa menghalau mereka lagi. Tapi, aku, angkau,
kita. Telah habis cerita. Telah habis makna. Telah habis bahasa. Telah habis
kata. Telah kehabisan inspirasi.
Seharusnya
di mendung yang sama, aku, angkau, kita bisa menikmatinya. Tarik ulur cuaca
menjadi sebuah drama kolosal. Tarik ulur cuaca yang bisa menjadi sebuah inspirasi
baru. Sayangnya, mendung sama yang pernah aku, engkau, kita lihat kini berbeda.
Semuanya terasa hampa. Bukan aku yang sedang menikmati drama kolosalnya. Bukan engkau
yang menjadi penonton. Bukan kita yang duduk di ujung dermaga menyaksikan
kepungan awan gelap yang menutupi ufuk barat. Yang ada kini hanya aku seorang
yang terduduk lesu. Melihat segalanya begitu keras. Tidak punya makna. Hampa.
Waktu
terlalu cepat mengusir cerita yang baru saja dirangkai dari kumpulan kata. Rangkaian
puisi yang dirangkai lewat rima dan syair-syair. Puisi yang seharusnya menjadi
buku yang menceritakan tentang aku, engkau, kita. Hanya tercipta satu halaman
dan kehabisan kata menjadi lembaran-lembaran putih.
(to
be continued )
Rabu, 10 Oktober 2012
None
Posted By:
Ayatul Husna
on 01.50
Aku, engkau, kita
Andai saja bisa punya jiwa
Andai saja punya cerita
Kamis, 09 Agustus 2012
Masa Lalu
Posted By:
Ayatul Husna
on 16.00
ketika segala hal tentangmu berlalu
aku hanya mampu memandangmu kosong
jiwaku terhimpit sedih dan
ragaku meregang nyawa
aku tak bisa
tak mampu melupakanmu
ketika aku berusaha melepasmu
aku dan seluruh diriku memberontak
aku tak mungkin meraihmu,
waktu telah memberimu jarak yang begitu jauh
engkau, hanya akan menjadi arca keinginan hati
yg tak terengkuh pelukku.
kini, jalan ini semakin panjang
engkau tetap tak bisa kutemui,
aku, diriku menginginkanmu
walau bahkan tubuh ringkihku tak akan bertahan
asaku takkan lekang oleh waktu
aku hanya mampu memandangmu kosong
jiwaku terhimpit sedih dan
ragaku meregang nyawa
aku tak bisa
tak mampu melupakanmu
ketika aku berusaha melepasmu
aku dan seluruh diriku memberontak
aku tak mungkin meraihmu,
waktu telah memberimu jarak yang begitu jauh
engkau, hanya akan menjadi arca keinginan hati
yg tak terengkuh pelukku.
kini, jalan ini semakin panjang
engkau tetap tak bisa kutemui,
aku, diriku menginginkanmu
walau bahkan tubuh ringkihku tak akan bertahan
asaku takkan lekang oleh waktu
Sabtu, 04 Agustus 2012
Butiran Debu
Posted By:
Ayatul Husna
on 19.21
Tawa, canda, bahagia.
Mengapa semua itu hanya nikmat bagi sebagian orang? Padahal, kita diciptakan sama. Mengapa harus ada tangis bagi sebagian orang disana? Haruskah ada pertumpahan darah hanya untuk memuasakan nafsu segelintir orang?
Ataukah memang, pada saat penciptaan, ada beberapa golongan yang "bertugas" untuk "memangkas" sesama mereka dari bumi?
Ketika kita masih sempat merasakan kemewahan dan keindahan dunia, haruskah mereka menangisi kekejaman dunia yang ternyata tetap satu langit dengan yang kita huni?
Disaat kita merayakan kebahagiaan di hari kelahiran, mereka justru harus menangisi mengapa mereka harus dilahirkan.
Disaat kita terlena dalam mimpi indah, mereka harus tetap terjaga mengawasai jikalau saja serangan musuh menghampiri.
Disaat kita mengejar kemewahan dunia, mereka justru sedang matia-matian mempertahankan hidup !
Mereka adalah bagian dari kita. Tapi, kita hanya terpaku di sini. merangkai impian kita. Mengejarnya disela tangis mereka yang terdengar hanya bagai butiran debu yang tak bernilai.
Mengapa semua itu hanya nikmat bagi sebagian orang? Padahal, kita diciptakan sama. Mengapa harus ada tangis bagi sebagian orang disana? Haruskah ada pertumpahan darah hanya untuk memuasakan nafsu segelintir orang?
Ataukah memang, pada saat penciptaan, ada beberapa golongan yang "bertugas" untuk "memangkas" sesama mereka dari bumi?
Ketika kita masih sempat merasakan kemewahan dan keindahan dunia, haruskah mereka menangisi kekejaman dunia yang ternyata tetap satu langit dengan yang kita huni?
Disaat kita merayakan kebahagiaan di hari kelahiran, mereka justru harus menangisi mengapa mereka harus dilahirkan.
Disaat kita terlena dalam mimpi indah, mereka harus tetap terjaga mengawasai jikalau saja serangan musuh menghampiri.
Disaat kita mengejar kemewahan dunia, mereka justru sedang matia-matian mempertahankan hidup !
Mereka adalah bagian dari kita. Tapi, kita hanya terpaku di sini. merangkai impian kita. Mengejarnya disela tangis mereka yang terdengar hanya bagai butiran debu yang tak bernilai.
Minggu, 29 Juli 2012
Buatlah ORANG LAIN Tersenyum
Posted By:
Ayatul Husna
on 20.56
Kadang aku berpikir bahwa hidupku tidak berarti sama sekali. Tidak tenar, tidak populer, dan tidak punya tempat dihati orang-orang disekelilingku. Sering aku berpikir untuk meninggalkan segalanya. Mengahiri hidupku karena kehadiranku tak ubahnya hanyalah sebuah remah kecil tak berarti. tak berbentuk. dan lebih baik tak dilahirkan di dunia.
Bernapas menjadi sangat berat. Melihat dunia begitu sempit. Aku merasa semua orang dimana-mana mencemoohku. menganggapku jalang. Menganggapku sampah yang yang harus dibuang jauh. Begitu ingin aku mengubur semua tentang diriku dalam-dalam kepelukan bumi.
Waktu bergulir. aku mulai merasakan hawa sejuk bumi. Keindahan alam yang ada disekelilingku. wangi bunga. Suara nyanyian alam. Gesekan daun dan dahan pepohonan.
Mereka begitu hebat menyajikan sebuah orkestra yang indah meski orang-orang yang lalu lalang tak perduli. atau mungkin karena mereka tak mendengar keindahannya? Hingga akhirnya aku berkonspirasi dengan alam karena mereka sama denganku. Tak punya arti di hati orang-orang.
Waktu bergulir. Dan semuanya berlalu satu demi satu. Berganti.
Aku mulai mencari orang-orang yang juga merasa "sendiri". Aku yakin pasti ada karena aku menemukan alam ternyata juga terbuang ditengah keramaian. Pasti. Pasti Ada manusia lain yang juga kesepian. Aku yakin. Dan aku harus mencari mereka Bagaimanapun caranya. Keinginanku sederhana. Aku ingin menyatu dengan mereka agar bisa membuat konspirasi yang lebih besar. Sapa tau bisa menghancurkan dunia ( :-) ) Lucu skali !!!
HHHHHHeeemmm dan ternyata benar ! Ternyata memang banyak orang yang merasakan kesia-siaan. di mana-mana. Bedanya, mereka "hancur" karena persoalan asmara. dan Akupun menjadi dekat dengan mereka karena aku mampu membuat mereka terbuka padaku. Mudah Membuat mereka membuka diri dan bercerita padaku. Menjadikan diriku sebagai pembuangan dari tiap keluh kesah mereka. Begitupun dengan diriku. Aku menjadikan mereka pelabuhan dari pemberontakanku.
Kedekatan. Itulah yang terjadi. Mereka menjadi "bergantung" padaku. karena mereka menanganggap aku mampu membuat mereka nyaman dalam kegalauan yang mereka alami.
Aku mulai berpikir untuk membuat mereka tersenyum ketika rasa sakit mendera. Meski terkadang akupun tak mampu mewujudkan semua kata-kata dan nasehatku pada mereka dalam kehidupan nyata. Akupun sulit mendamaikan hatiku dengan tiap kenyataan yang pernah ada.
Hidup yang berkhianat denganku.
Tapi, memang begitu tenang tatkala kita mampu menjadi jalan keluar bagi tiap masalah yang dihadapi orang lain. Membuat mereka tersenyum kala tersakiti ternyata begitu sulit sekaligus menantang.
Aku merubah niat. dari yang semula menginginkan konspirasi yang lebih besar untuk menghujat kesendirian kini berusaha membuat orang-orang hancur sepertiku bangun dan melihat keindahan dunia. Begitu dilematis dan lucu memang karena di satu sisi, aku bahkan belum mampu membuat diriku menemukan kebahagiaan seperti yang berusaha ku tunjukkan pada mereka. Munafik, bukan ??
Tapi, aku nyaman. Aku bahagia, aku senang ketika mereka tertawa dalam bejatnya hidup.
Dan tak kusadari, aku menemukan bahwa ternyata aku ini berarti. Aku punya ARTI. Kehadiranku bukan remah tak berbentuk. Aku manusia yang bisa diandalkan meski hanya alam kalangan mereka yang "tersakiti".
Mereka membuatku tersadar. bahwa ternyata hidup ini indah berarti tergantung bagaimana kita menghadapinya. memecahkan tiap teka-teki. Mengalahkan tiap tantangan yang ada. Aku sadar bahwa meskipun tak menjadi orang yang dielu-elukan tiap saat oleh banyak orang, kita masih bisa menjadi orang yang nomor satu diantara segelintir orang, yang ternyata membeikan penghargaan yang lebih besar !
Aku bisa ! Aku Mampu! Aku berarti !
dan Aku yakin itu !
Sabtu, 14 Juli 2012
ILUSI
Posted By:
Ayatul Husna
on 20.54
Aku mencarimu kEmana-mana
kuselidiki tiap sudut
kesingkap bentangan tirai
berharap penantian panjangku berakhir
aku lelah dengan s'galanya
ketika mentari tak mampu menerangi
cahaya tak nampak
aku letih
kemana dan dimana akan kutemui
ragaku memberontak
nafaku menderu
akankan kau nyata ?
kuselidiki tiap sudut
kesingkap bentangan tirai
berharap penantian panjangku berakhir
aku lelah dengan s'galanya
ketika mentari tak mampu menerangi
cahaya tak nampak
aku letih
kemana dan dimana akan kutemui
ragaku memberontak
nafaku menderu
akankan kau nyata ?
Rabu, 11 Juli 2012
KEPINGAN HATI
Posted By:
Ayatul Husna
on 20.03
Giris gerimis itu membawa kembali wajahmu. Wajah yang sama. Wajah yang pernah merebut setiap rasa cinta yang kumiliki. Semua perhatian, semua keagungan hati seorang perempuan, semua kepercayaan, semua harapan, semua keindahan dari rasa. Semua keyakinan.
Wajahmu masih dengan gurat yang sama. Air muka yang sama. Tak ada yang berubah dari senyum itu. senyum yang mampu menggetarkan sendi-sendi hatiku yang tertidur dalam remang. Menghangatkannya dengan kelembutan! Keindahan yang tak seorang pun mampu menyangkalnya. Wajahmu, Lelaki !
Aku mencintaimu lelaki ! bahkan lagu itu terus saja menggema di ruang batinku hingga tak terasa 4 tahun berlalu. Menghangatkan diriku dalam tetes kerinduan. Asa untuk terus mendekapmu dalam jiwaku memenuhi rongga hatiku. Hati seorang perempuan. Kepalaku tak mampu menahan setiap kali otakku berputar melukismu dalam tiap sel di tubuhku. Hingga bahkan aku tak mampu memalingkan wajahku, tubuhku, seluruh diriku darimu. Dirimu Lelaki, ada dalam diriku, mengalir di darahku.
Lukisan wajah di langit itu mengingatkan diriku akan hari-hari yang pernah kulewati bersama denganmu, Lelaki. Betapa dalam setiap do’aku mengalir rintihku padaNya dalam harap semoga dalam setiap jejak langkahmu, selalu saja dalam rengkuhannya. Bahkan aku takut Ia berpaling hingga tak menjagamu kala jauh dariku. Aku takut, di setiap perjalanan panjang yang kau lalui, Ia tak membawamu kembali padaku. Taukah, Lelaki ??
Segala tentangmu meyakinkanku. Engkaulah jawaban dari pencarian akan imamku. Tiada ragu sedikitpun di hati saat aku memintaNya agar memberiku waktu tetap bersamamu hingga nafasku berakhir. Aku mengagungkanmu hingga aku bahkan tak punya waktu memikirkan yang lain. Mataku tak mampu melihat keindahan dari wajah lelaki lain meski awan menggambarnya begitu nyata. Aku mencintaimu, hingga tak tersisa ruang sedikitpun untuk yang lain.
Lelaki, tahukah kau, begitu bahagia diriku kala mereka yang disekelilingku begitu percaya padamu? Begitu yakin akan dirimu ? dan awan yang kadang menghujatmu, merusak lukisan wajahmu dilangit itu kelu, kalah. Ia tak mampu mengganggumu.
Lelaki, tahukah kau, segenap rasaku begitu indah untukmu ?
Tetapi, mengapa kau membunuhku perlahan ?
Tetapi, mengapa kala segalanya keserahkan untukmu, wajah di langit itu kian redup? Padahal awan-awan yang iri padaku tak menjamahmu. Mengapa wajah itu bahkan tak tersenyum lagi padaku? mengapa kehangatan itu tak lagi terasa ? mengapa doa’-do’a tertulus dariku begitu asing? Kukira, saat bibirku merangkai kata dalam tenggelamnya do’aku engkau kan mengAminkannya. Kukira kerinduan yang bergetar dalam hatiku sama dengan getaran rindu di hatimu. Aku mengira, jiwamu menyatu dengan jiwaku, seperti dirimu yang ada dalam nafasku.
Lelaki, mengapa harus sekarang ? mengapa harus saat ini engkau membawa petir bersamamu di langit? Mengapa sekarang kau mengerahkan mereka, membunuhku dengan petir-petir itu ? tahukah kau ? andai saja kau minta, kau bisa mengambil nyawaku dengan tanganmu sendiri. Bukan dengan petir yang menghujamku ? Mengapa harus sekarang saat segalanya kuberikan untuk dirimu, kau tak lagi menyingkap petir itu menjauh dariku seperti dahulu? Kau bersekongkol dengannya untuk menghancurkanku. Bahkan saking sakitnya, hanya kata itu yang mampu keluar dari bibirku. Mengapa?
Mengapa kian memelas aku meminta jawabmu, hanya keangkuhan yang kutemui. Tiada lagi wajah yang teduh itu. Kau membalas tatapan mataku yang meminta penjelasan dengan hantaman petir yang melemparkanku dalam jurang Tanya yang tak mampu kujawab. Salahkah aku dengan segala yang kuberikan untukmu? Saat tubuh ringkihku bangun perlahan, petir itu terus saja menghantam bersama tawamu yang terbahak-bahak melihatku jatuh dalam kepingan kecil.
Hatiku kini menjadi remah kecil yang masih meneriakkan namamu lelaki. Berteriak agar Tuhan menahan amarah untuk membalasmu. Begitu lembut remahan itu tetap dalam do’a untuk keselamatan, kebahagiaanmu. Tapi semua itu terdengar lucu bagimu karena tawamu kian keras diseantero langit.
Langit membawa wajahmu berlalu. Meninggalkan diriku dalam kesunyian. Dalam kepingan tak berbentuk. Gelap. Kepingan itu mengeluarkan air mata yang terus menetes seiring Tanya yang tak terjawab. Kepingan-kepingan diriku terbawa arus air yang menyatu. Terbang bersama angin ribut. Terbawa udara. Bercerai berai kepenjuru bumi. Hancur !
Waktu berlalu begitu cepat. Musim berganti. Hujan berganti sinaran matahari di bumi. Gerimis berganti senyum mentari. Alam bersinar terang.
Perlahan, angin, air dan udara yang tak sanggup lagi mendengar rintihan kepingan-kepingan kecil, bersikukuh membawa mereka kembali. Bersatu kembali. Aku yang dulu, kini kembali menjadi diriku. Dan alampun bersorak. Kepingan itu, tak lagi benda kecil tak berbentuk. Tapi sekarang menjadi manusia. Seorang perempuan.
Tiap kepingan yang dulu bermunajat kepadaNya tiada henti untuk keselamatanmu, meneriakkan kebencian dan sumpah serapah.
Lalu, dengan kelembutan, hatiku berbicara. Akulah yang tak mampu membendung rasaku hingga begitu besar. Dan rasa itulah yang dulu begitu gampangnya memecah tubuhku. Petir hanyalah sebab kecil. Akulah yang tak menyimpan sedikit ruang untuk hatiku bernapas. Aku begitu egois menempatkan dirimu diseluruh tubuhku hingga hatiku tak mampu bernapas lagi karena dipenuhi olehmu. Karenanya, ia sakit, ia melepuh, ia meradang, lalu hancur bersama organ yang lain.
Aku tersadar, aku terbangun dari tidur yang panjang. Mimpi yang terlalu indah. Keyakinan itu terlalu cepat terbentuk untukmu. Rasa cintaku yang terlalu besar tak mampu menggapaimu hingga ke langit. Kau terlalu jauh.
Cinta ini memang pernah membunuhku. Tetapi, karenanya, aku mampu lahir menjadi manusia yang lebih baik. Lelakiku, mungkin kau telah menganiayaku dengan semua perlakuanmu. Tapi karenanya aku mampu mengerti arti cinta yang sebenarnya. Cinta yang tidak mengikat tapi membebaskan. Cinta yang tidak terbatas tapi memberi ruang. Cinta yang mendewasakan.
Kalaupun dahulu aku menghujatmu dengan kata-kata kasar, semua itu terjadi karena sakitku. Pedihku karena ulahmu. Sekarang waktu mengubahku, do’a tertulusku masihlah kucurahkan padaNya meski tak lagi memintaNya menjadikanmu milikku. Biarlah engkau berlalu mencari tujuanmu. Dan aku akan tetap pada takdirku, cintaku, dan seluruh keyakinanku bahwa Tuhan akan membawa lelaki yang nyata untukku.
Kini, giris gerimis itu kembali datang. Membawa lukisan wajahmu. Lelakiku. Tapi hatiku kini tak lagi menyuarakan kekaguman dan kecintaan. Hatiku kini hanya tinggal merangkai kenangan lama itu menjadi mozaik puisi kehidupan yang penuh hikmah. Penuh makna.
Saat gerimis perlahan menghilang, wajahmu perlahanpun menghilang berganti pelangi yang indah. Dan alam bernyanyi lembut berceritera tentang hariku yang belum berakhir. AAhhhh!!! Lelakiku !!!
(Sinjai, 10 Juli 2012)
Langganan:
Postingan (Atom)














